
Bisnishotel.id, GARUT — Kinerja sektor perhotelan di Kabupaten Garut menunjukkan perbaikan pada April 2026 seiring meningkatnya tingkat hunian kamar (TPK).
Namun, rata-rata lama menginap wisatawan yang masih berada di kisaran satu malam menjadi tantangan bagi pengembangan ekonomi pariwisata daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut mencatat rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang dan nonbintang pada April 2026 mencapai 1,06 malam. Angka tersebut naik tipis dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 1,05 malam.
Kepala BPS Kabupaten Garut, Sidik Edi Sutopo, mengatakan rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang mencapai 1,19 malam, sedangkan tamu hotel nonbintang rata-rata menginap selama 1,02 malam.
“Secara total, rata-rata lama menginap tamu pada jasa akomodasi di Kabupaten Garut pada April 2026 tercatat 1,06 malam. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 1,05 malam,” ujarnya, dikutip Rabu (17/6/2026).
Meski durasi menginap masih relatif singkat, tingkat hunian kamar hotel di Garut menunjukkan tren positif. TPK gabungan hotel berbintang dan nonbintang pada April 2026 mencapai 26,37%, meningkat 1,38 poin dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 24,99%.
Peningkatan okupansi terutama terjadi pada hotel berbintang. TPK hotel berbintang tercatat sebesar 43,05%, naik dari 37,09% pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, hotel nonbintang membukukan tingkat hunian 23,27%, sedikit lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 22,74%.
Kondisi tersebut menunjukkan arus wisatawan ke Garut masih terjaga. Namun, sebagian besar pengunjung tampaknya datang untuk perjalanan singkat, seperti wisata akhir pekan atau kunjungan harian yang tidak mendorong masa tinggal lebih panjang.
Menurut Sidik, lama menginap merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur dampak ekonomi sektor pariwisata. Semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, semakin besar potensi belanja yang dapat dinikmati pelaku usaha lokal, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga pusat oleh-oleh dan pelaku UMKM.
Sebaliknya, wisatawan yang hanya menginap satu malam cenderung memberikan dampak ekonomi yang lebih terbatas meskipun jumlah kunjungan meningkat. Karena itu, kenaikan jumlah tamu belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan nilai ekonomi yang diterima daerah.
BPS mencatat rata-rata lama menginap di hotel berbintang justru menurun dibandingkan April 2025 yang mencapai 1,24 malam. Sementara, hotel nonbintang relatif stagnan di kisaran satu malam. Di sisi lain, TPK gabungan sempat menyentuh 34,71% pada Desember 2025 sebelum menurun pada awal tahun dan kembali meningkat pada April 2026.
Sidik menilai peningkatan okupansi pada April tidak terlepas dari posisi Garut sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat. Normalisasi aktivitas wisata dan perjalanan masyarakat turut mendukung pertumbuhan jumlah tamu hotel dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, tantangan utama sektor pariwisata Garut saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan menciptakan daya tarik yang mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama.
Dengan rata-rata lama menginap yang masih 1,06 malam, Garut dinilai masih lebih dominan sebagai destinasi kunjungan singkat dibandingkan tujuan liburan dengan masa tinggal yang panjang.
